Laman

Friday, September 17, 2010

About God, religion, creed, and deeds

Akhirrnya gue menjamah blog lagi setelah sekian lama libur lebaran,, sebenernya gue ga ikutan ngerayain, tapi yang namanya Lebaran itu erat kaitannya sama mudik, yaaa jadilahh rumah gue tanpa pembantu… Sebagai gantinya yaa gue bantuin beres beres rumah, tapii gak tau kenapa gue seneng ngerjainnya,, abis cape-cape keringatan tapi gue puas ngeliat rumah kita bersihh… :)

Postingan kali ini, gue pengen ngebahas cara pandang gue tentang agama, iman, yah,, sejenisnya lah..
Ga tau kenapa, gue pengen share ini, akhir akhir ini di pikiran gue selalu berkecamuk tentang masalah agama, perbedaan, iman dan sebagainya..
Ya mungkin karena gue udah beranjak dewasa, terpengaruh pergaulan di sekitaran gue, dan lain lain, finally… gue mempunyai cara pandang sendiri tentang agama, iman, dan sejenisnya yang akan gue bahas.

Gue dilahirkan di keluarga Katolik, bokap nyokap gue Katolik, secara otomatis mereka membaptis gue pas gue masih bayi. Gue ke Gereja setiap minggunya dan selalu begitu, tetapi pada saat gue SMA kelas 1 gue diajak bergabung ke semacam komunitas yang ada di gereja gue, alhasil gue ikutlah organisasi itu,, di situ teman teman gue banyak yang sharing tentang perjalanan iman mereka.

Disaat itulah gue sadar kalau selama ini iman gue itu hampa,, memang benar gue selalu ke Gereja setiap minggunya, menerima pelajaran Agama Katolik disekolah, tapi gw gak pernah meresapi makna dari apa yang udah gue lewatin selama ini, iman gue hampa, kosong, gue cuman berlabel Katolik aja..
Dari saat itu itu gue mengenal yang namanya pelayanan, pelayanan terhadap sesama dan pelayanan terhadap Tuhan..

Gw pernah baca atau dengerin orang (gue lupa) tentang cara pandang dia tentang Tuhan, dan agak controversial memang,
Dia punya pernyataan kalau “apakah Tuhan menciptakan manusia, atau manusia yang menciptakan Tuhan” dia ngerasa kalau pertanyaan ini bagus, dan ngebuat hidupnya berubah.

Nah ternyaata orang ini beranggapan kalau Tuhan, surga, dan neraka itu hanya diciptakan manusia jaman dahulu, agar manusia berbuat baik,
Hal ini ternyata berkaitan erat dengan dosa, jika kita percaya adanya Tuhan, maka perbuatan yang tidak baik akan dianggap dosa.
Dan kalau kita tidak percaya pada Tuhan, dosa yang kita perbuat tidak berpengaruh pada apapun. Mungkin hanya berpengaruh pada hukum setempat, itupun kalau kita membunuh misalnya, atau nyolong duren tetangga.
Ternyata, dia juga beranggapan kalau cerita tentang neraka dan surga hanyalah tradisi turun temurun yang sekarang akhirnya mendoktrin kita berfikir bahwa surga dan neraka benar ada.

Ya ga salah si itu orang memepunyai pikiran seperti itu…
Setiap orang mempunyai cara pikir yang berbeda, kita mempunyai sifat, adat istiadat, pergaulan yang berbeda, membuat cara pikir dan cara pandang orang berlainan satu dengan yang lain. Sekarang tergantung kita menghargai perbedaan itu atau malah saling menjatuhkan karena perbedaan itu.

Akan sangat wajar di Negara jepang yang penduduknya banyak yang menganut paham atheism seperti itu, tapi mereka tentram, damai, gak ada yang saling menjatuhkan, tolransi mereka tinggi. Tapi mengapa di Negara beragama seperti kita malah saling menjatuhkan??









“ Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”  (Ibrani 11:1)

Gue punya suatu anggapan yaitu, orang yang bekeyakinan apapuun itu, akan sangat baik jika mempercayai adanya Sang Pencipta, menghargai alam semesta, berkelakuan baik, tidak mencemooh dan menganiaya yang berbeda keyakinan dengannya.

Buat gue ajaran agama apa saja itu baik, tapi memang tergantung orang yang menganutnya.
Jika kita sudah rajin berdoa, dan segala macamnya, tapi kita tetap diam saja melihat orang yang kesusahan, iman yang kita bangun itu nol besar.

Gue belajar kalau hidup itu harus seimbang antara vertikal dan horisontal,
vertikal dan horizontal harus berjalan seiring,
maksudnya disini iman gue kepada Tuhan yang mengarah keatas (vertical), harus seiring dengan perbuatan gue pada sesama yang mengarah kesamping (horizontal).
Akan bernilai nol kalau gue udah rajin berdoa tapi gue masih saja acuh ngeliat oarng yang susah.


Tapi gue sadar, sesadar sadarnya, gue sama sekali belum seimbang antara vertikal dan horizontal,
memang manusia tidak ada yang sempurna, tapi manusia dapat meraih titik yang mendekati sempurna, hanya sekarang masalahnya bisa atau tidaknya kita mencapai titik tersebut, semua tergantung kita.

Jika memang percaya Tuhan itu ada, maka Dia memang ada, tapi jika kita tidak percaya Tuhan ada, maka dia tidak ada.
Ada satu cerita tentang si pencukur rambut, berikut kisahnya:

Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang:

Tukang Cukur/TC : “Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.

Konsumen/K :“Kenapa kamu berkata begitu ???

TC : “Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, dijalanan.. untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada, katakan kepadaku jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit? Adakah anak terlantar? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang,berombak kasar , Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.










Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata.
" Kamu tahu, sebenarnya tidak ada tukang cukur!!”
TC : “ Kamu kok bisa bilang begitu? ” “Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”

K: “Tidak! ”  “Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada,tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang diluar sana

TC: “Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada! ”, sanggah si tukang cukur. “Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya?"

K: “Cocok!” kata si konsumen menyetujui.”Itulah point utamanya!"

Sama dengan Tuhan, Tuhan itu juga ada ! Tapi apa yang terjadi, orang-orang yang tidak datang padaNya dan tidak mencariNya, maka mereka tidak akan percaya kepada-NYA.

Gue kadang masih suka mengeluh kenapa si beginii,, kenapa sii begitu, padahal gue udah sangat jelas mengerti tentang anggapan bahwa,
Tuhan bekerja dengan cara yang sama.
Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu persatu sesuai dengan rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktuNya.
Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita.

Ada satu cerita lagi yang bikin gue tersenyum, cerita tentang mahasiswa dan profesornya,

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?
Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.

“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.

Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,
“Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” "Tentu saja,” jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas." 

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya."
" Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna.
Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”
Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,
“Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. 
Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih."

"Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam. Ternyata nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.





















Nah selesai juga postingan gue ini..
Sebenarnya tidak ada inti atau hasil dari postingan gue kali ini, tapii gue puas banget, gak tau kenapa..
Karena setelah gue coba nulis postingan gue ini, semua pertanyaan dan  pernyataan tentang Dia yang sempet menyeruak di hati dan pikiran gue akhir akhir ini sudah hilang.
Mungkin karena iman gue kurang kuat, situasi kondisi sekitar gue yang ngebuat gue kayak gitu...

Firman Allah berkata:
 “… tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibrani 11:6). 

Iman bukanlah percaya dibuat-buat. Iman bukan harap-harap cemas. Iman berarti percaya bahwa Allah itu ada.
Iman berarti percaya bahwa Allah adalah Allah yang baik, yang memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
Dan iman yang tumbuh tanpa perbuatan baik. iman itu akan mati sia sia.




Regards,
Bernadaetta Rayi

No comments:

Post a Comment